Thursday, 15 November 2012

[Kontemplasi] Sebuah Momentum Muharram.



Janganlah menyerah, gara-gara ANDA memiliki banyak KETERBATASAN.

Slogan inilah yang kini senantiasa menyemangati hari -hari ku.  Menjaga ‘nyala api’ semangatku, yang kadang turun, hingga berharap tak pernah pudar. Membangun kembali ‘puzzle’ mimpi ku yang terserak. Bukan karena aku tak lagi menginginkannya, tetapi karena aku merasa banyak memiliki KETERBATASAN!

Keterbatasan fisik, keterbatasan dana, keterbatasan Ilmu, bahkan yang sangat besar pengaruhnya ketika aku merasa miliki keterbatasan WAKTU.

Sedang, KESUKSESAN sama sekali tidak ada hubungannya dengan gelar akademis, garis keturunan, kesempurnaan phisik, bahkan umur sekalipun.  *dikutip dari buku “Nyalakan Nyali.”

Dan, KERUGIAN terbesar dalam HIDUP, ketika kita tak mampu memberikan apa-apa untuk KEHIDUPAN kita, tak memberi  MANFAAT bagi lingkungan di sekitar kita, tidak ‘melahirkan’ generasi yang akan menjadi tonggak berdirinya sebuah PERADABAN !

“Yang tragis adalah orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerahkan seluruh kemampuan maksimalnya!”  -Arnold Bennet-

Meskipun, miliki banyak keterbatasan, finally aku berusaha untuk merubah cara pandang, hingga semakin besar semangat juangku dalam hidup.

Keterbatasan Fisik, yang senantiasa anemia dalam empat kali kehamilan, nyaris tak tertolong pasca persalinan putera pertama. Senantiasa merasa lemah dan cepat letih. Sedang –idealisnya- kami yang tak miliki khodimat, ingin selalu miliki rumah dalam keadaan bersih dan rapih. Akupun berjuang.  Mengkonsumsi segala makanan yang menguatkan kumpulan sel-sel darah merah ku. Mensuplai beragam suplemen yang menyiapkan tubuhku tuk ‘melawan’ segala kelemahan.

Keterbatasan Ilmu, yang membuatku –pernah- merasa tidak pantas untuk menjadi seorang GURU. Menginginkan untuk terus mengembangkan diri, mengupgradekan masa depan ku.  Aku pun berjuang.  Mengoptimalkan kemampuan belajar, rajin bersilaturahmi dengan kawan-kwan yang jenjang pendidikannya lebih tinggi serta miliki banyak ILMUmelalui  pengalaman hidupnya juga pekerjaannya. 

Keterbatasan Dana, yang membuatku pernah merasa susah hati, melihat kawan-kawan yang bisa bersedekah dengan semangat dan ikhlasnya, keterbatasan yang membuat hatiku meringis ingin sekali membaca buku yang membuatku ‘tergila-gila’ tuk membacanya, meneguk ilmunya.  Sekali lagi, Aku pun berjuang. Mencoba untuk terus berkawan dengan banyak orang-orang yang sholeh dan sukses, dengan langkah silaturahim aku awali usaha entrepreneur tanpa modal, dan kini aku mulai menikmati kemanisan dari kerikil-kerikil tajam yang pernah kutempuh sejak tahun 2004.

Dan, Keterbatasan Waktu. Waktu yang sama dengan semua orang; 24 jam dalam sehari.
Waktu yang kadang membuatku harus berkejaran dengan semua rutinitas –itu itu saja- seperti tak pernah usai?

Waktu yang membuatku ‘menjerit’ karena terasa begitu singkatnya, sedang pekerjaanku masih banyak lagi …!

Waktu yang  membuat nafas ku tersenggal, kaki terasa berat, kepala keleyengan, punggung pegal-pegal, karena berlarian ‘mengejar’nya. Mencoba sempurnakan beragam amanah dengan rutinitasnya.
Berusaha menjalani hidup yang terbaik menjadi hamba Allah yang berinsan kamil, pun sebagai isteri, sebagai ibu dari keempat anak lelaki, sebagai seorang pengajar (juga pendidik) di tanah rantau, sebagai  entrepreneur –sukses-- muslimah dan spiritual writer . Dan, kedua amanah terakhir yang ku sebutkan adalah MIMPI – MIMPI yang masih terus kuperjuangkan.

Karena, MIMPI akan membuat kita senantiasa bergairah untuk terus bergerak. 

MIMPI akan menjadi energi yang berkelimpahan tanpa batas!

MIMPI akan menjadikan kita tahan banting , siap hadapi karang terjal sekalipun.

MIMPI yang membuat kita hidup dan terus bersemangat untuk mengajar kesuksesan demi kesuksesan.


Teruslah berMIMPI, bergerak dan senantiasa melangitkan mimpi kita dalam doa. (Dee’81)
...Fa inna ma’al ‘usri yusroo…
“Get Up, Stand Up!”
“Don’t Give Up the Fighhtttt!!”
 “Allahu Akbar!”


terus membersamai sisa waktu-ku penuh perjuangan.....

*Dini  Rahmajanti (Dee). Awal Muharram 1434 Hijriah.
 Semenanjung Malaysia.

No comments:

Post a Comment